PERAN PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN SEBAGAI PENGENDALI FUNGSI DALAM PEMBANGUNAN LANJUTAN LABORATORIUM B2P2TOOT TAWANGMANGU

Rahmad Lingga, Nurzaidah Putri Dalimunthe, Budi Afriyansyah, Riko Irwanto, Henri Henri, Erwin Januardi, Marinah Marinah, Safitri Safitri

Abstract


Pembangunan gudang logistik Polres Lamongan, sebagai salah satu elemen infrastruktur publik, perlu dilakukan pengawasan dengan tingkat efisiensi yang tinggi untuk mendukung kebutuhan operasional kepolisian. Beberapa masalah operasional telah muncul yang menghambat penyelesaian tepat waktu. Salah satu masalah utama yang dihadapi adalah keterlambatan dalam pengiriman material yang sangat mempengaruhi kelancaran pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan dalam proyek pembangunan Gudang Logistik Polres Lamongan, dengan fokus pada peran kontraktor, supplier, konsultan, dan pemilik proyek. Melalui pendekatan kuantitatif, penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang dapat menyebabkan keterlambatan proyek konstruksi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis regresi linier berganda untuk menentukan hubungan antara variabel independen (lingkungan kerja, keterlambatan material, peralatan, tenaga kerja, dan perubahan desain) dengan keterlambatan pelaksanaan pekerjaan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor tenaga kerja memiliki pengaruh terbesar terhadap keterlambatan proyek, dengan nilai beta 0,455, diikuti oleh perubahan desain yang memiliki pengaruh positif meskipun kecil. Sementara itu, faktor lingkungan kerja, keterlambatan material, dan peralatan tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Untuk mengatasi keterlambatan, penelitian ini merekomendasikan perbaikan dalam koordinasi antar pihak terkait, manajemen sumber daya yang lebih baik, dan perencanaan yang lebih matang. Penelitian ini memberikan wawasan yang penting untuk meningkatkan pengelolaan proyek konstruksi dan mencegah keterlambatan yang tidak terduga pada proyek-proyek serupa di masa depan.



Full Text:

PDF

References


Chang, S. T. (1993). Mushroom biology: the impact on mushroom production and mushroom products. In Mushroom biology and mushroom products. The Chinese University Press.

Desjardin, D. E., Wood, M. G., & Stevens, F. A. (2014). California mushrooms: The comprehensive identification guide. Timber Press.

Günç Ergönül, P., Akata, I., Kalyoncu, F., & Ergönül, B. (2013). Fatty acid compositions of six wild edible mushroom species. The Scientific World Journal, 2013 (June). https://doi.org/10.1155/2013/163964

Hawksworth, D. L. (2001). Mushrooms: The extent of the unexplored potential. Intlernational Journal of Medicinal Mushrooms, 3, 333-337. https://doi.org/ 10.1615/IntJMedMushr.v3.i4.50

Karwa, A., & Rai, M. K. (2010). Tapping into the edible fungi biodiversity of Central India. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 11(2), 97–101. https://doi.org/10.13057/biodiv/d110209

Kutszegi, G., Siller, I., Dima, B., Takács, K., Merényi, Z., Varga, T., Turcsányi, G., Bidló, A., & Ódor, P. (2015). Drivers of macrofungal species composition in temperate forests, West Hungary: Functional groups compared. Fungal Ecology, 17, 69–83. https://doi.org/10.1016/j.funeco.2015.05.009

Lingga, R., Gabriela, F. V., & Darlingga, M. (2019). Keanekaragaman Jamur Makroskopik di Kawasan Taman Wisata Alam Permisan, Kabupaten Bangka Selatan. EKOTONIA: Jurnal Penelitian Biologi, Botani, Zoologi Dan Mikrobiologi, 4(1), 18–24. https://doi.org/10.33019/EKOTONIA

.V4I1.1011

McKnight, K. H., & McKnight, V. B. (1987). A field guide to mushrooms North America. Houghton Mifflin Company.

Moore, D., Nauta, M. M., Evans, S. E., & Rotheroe, M. (2001). Fungal conservation issues: recognising the problem, finding solutions. In Fungal conservation: issues and solutions. Cambridge University Press.

Mueller, G. M., Schmit, J. P., Leacock, P. R., Buyck, B., Cifuentes, J., Desjardin, D. E., Halling, R. E., Hjortstam, K., Iturriaga, T., Larsson, K. H., Lodge, D. J., May, T. ., Minter, D., Rajchenberg, M., Redhead, S. A., Ryvarden, L., Trappe, J. M., Watling, R., & Wu, Q. (2007). Global diversity and distribution of macrofungi. Biodiversity and Conservation, 16, 37–48. https://link.springer.com/article/10.1007/s10531-006-9108-8

Munir, E. (2006). Pemanfaatan mikroba dalam bioremediasi: suatu teknologi alternatif untuk pelestarian lingkungan. Pidato pengukuhan jabatan guru besar tetap dalam bidang mikrobiologi FMIPA USU. USU Publisher.

Myasari, I., Linda, R., & Khotimah, S. (2015). Jenis-jenis jamur basidiomycetes di hutan bukit Beluan kecamatan Hulu Gurung kabupaten Kapuas Hulu. Protobiont, 4(1), 22–28. http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jprb/article/view/8711

Noverita, N., Nabilah, N., Siti, F. Y., & Yudistari, Y. (2018). Jamur makro Di Pulau Saktu Kepulauan Seribu Jakarta Utara dan potensinya. Jurnal Mikologi Indonesia, 2(1), 16. https://doi.org/10.46638/jmi.v2i1.38

Salerni, E., & Perini, C. (2004). Experimental study for increasing productivity of Boletus edulis s.l. in Italy. Forestry Ecology Management, 201, 161-170. https://doi.org/10.1016/j.foreco.2004.06.027

Savoie, J. M., & Largeteau, M. L. (2011). Production of edible mushrooms in forests: Trends in development of a mycosilviculture. Applied Microbiology and Biotechnology, 89(4), 971–979. https://doi.org/10.1007/s00253-010-3022-4

Van Griensven, L. J. L. D. (2008). Mushrooms: cause and cure. Proceedings of the 6th International Conference on Mushroom Biology and Mushroom Products, Höntges Quickdruck, Krefeld.

Yamada, A., Ogura, T., & Ohmasa, M. (2001). Cultivation of mushrooms of edible ectomycorrhizal fungi associated with Pinus densiflora by in vitro mycorrhizal synthesis. Mycorrhiza, 11, 59–66. https://link.springer.com/article/10.1007/S005720000093




DOI: https://doi.org/10.26877/bioma.v10i2.7920

Refbacks

  • There are currently no refbacks.