MODEL PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI SASTRA BERBASIS KEARIFAN LOKAL UNTUK PENANAMAN KARAKTER BERPIKIR POSITIF

Suwardi Endraswara

Abstract


Model pembelajaran antropologi sastra, tergolong hal baru dalam konteks pembelajaran sastra. Dikatakan sebuah model, sebab pembelajaran antropologi sastra merupakan jurus baru untuk memberikan pemahaman sastra secara komprehensif. Maksudnya, sastra perlu dipahami dari aspek budaya. Artikel ini menawarkan hal ihwal bagaimana memahami sastra yang berbasis budaya local.

Dari berbagai model yang saya tawarkan, saya meyakini bahwa suatu saat apabila diterapkan di sekolah subjek didik akan lebih percaya bahwa pembelajaran antropologi sastra itu dapat dimodifikasi. Pembelajaran antropologi sastra dapat memanfaatkan bidang lain, seperti halnya seni dan budaya. Inti dari pembelajaran sastra yang “itu-itu terus” akan menjemukan. Model pembelajaran yang berbasis kearifan lokal merupakan “jembatan emas” untuk mengajak subjek didik bergembira dalam belajar antropologi sastra.

Dari model outbound-learning dan joyfull--learning sesungguhnya dapat dipadukan dalam implementasi pembelajaran antropologi sastra. Berbagai ideologi yang muncul sebagai kearifan lokal Jawa dan Bali, sesungguhnya dapat menjadi basis penyemaian nilai budaya. Biarpun sering ada ideologi modern yang menjalankan mitos atas dasar ideologi “jual-beli” atau “untung rugi”, dengan gaya iming-iming (reward) surga, melalui outbound dan joyfull, subjek didik akan semakin memahami orang lain. Antropologi sastra tidak hanya masalah pribadi, melainkan juga berkaitan dengan konteks social budaya. Model tersebut dapat sekaligus sebagai upaya penanaman ideology berpikir positif. Berpikir positif melalui cipta sastra akan menyegarkan hidup.

Kata kunci: model, antropologi sastra, kearifan local, berpikir positif

 


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.